alkisah seperti cerita usang, saya akan mengawali dengan kata pada suatu waktu…. suatu waktu saya berkenalan dengan mbak Windi, dia datang ketika aku baru mengenal dunia. mbak Windi yang berpenampilan wah dan ramah dan gaul membuatku enjoy, aku dibuatnya senang sekali. dengan segala kelebihanya dia menunjukkan ku kemampunya untuk berkomunikasi dengan teman-temanya. dan akhirnya aku menjalin hubungan khusus dengan mbak Windi, aku suka dia karena dia ramah dan enak diajak ngobrol pada waktu itu. hari demi hari, dia mengajakku untuk nonton filem, mbuat tugas kuliah bersama, mendampingiku coding program, membimbingku dasar-dasar jaringan dan lainya. sepertinya aku mulai menganggap mbak Windi itu perfect, mulai dari body yang wah dan cantik serta pintar… layaknya bidadari yang turun dari surga.

pada suatu ketika mbak Windi kena masalah, aku pun menjadi iba. kutanya dia apa permasalahnya dia hanya diam dan bungkam seribu bahasa. ah kuanggap itu hanyalah persoalan pribadi, “okelah it’s your privacy” kataku waktu itu. kata pujangga, jika masalah besar dipendam maka akan membesar, masalah mbak Windi ternyata bukan hanya masalah pribadi. dia sakit keras! oh tidak… jantung hatiku sakit… kucoba untuk mngerti dan menemaninya sepanjang hari, tetapi balasan dari mbak Windi justru sebaliknya. dia membuang semua tulisanku, dia membuang apapun yang aku punya, dia mengganti dokumen-dokumenku dengan penyakitnya, mbak Windi semakin aneh… cekcok pun tak terelakkan, hari demi haripun aku lalui dengan debat tanpa henti denganya.

kegelisahan hati membuatku ingin refresing sejenak dari mbak Windi yang sedang sakit parah, aku akhirnya refresing jalan-jalan dengan temanku yang kebetulan pacarnya juga sakit. di tengah jalan waktu kami refresing kami bertemu dengan mbak Dian, sia cantik dan tak kalah main dengan mbak Windi. kami pun basa-basi kenalan dengan mbak Dian. mbak Dian ini beda dengan mbak Windi, dia lebih terbuka dan yang aku suka tentu saja dia mempunyai innner beauty, hehehe. akhirnya aku temenan baik dengan mbak Dian walau waktu itu aku juga jalan dengan mbak Windi.

mbak Dian sepertinya jarang sakit dan tidak rewel, aku semakin bingung dengan ke dua wanita ini. mbak Windi akhirnya ku jauhi dan ku dekati mbak Dian. anehnya sebenarnya mbak Dian tau kalau aku juga jalan dengan mbak Windi tetapi mbak Dian sepertinya menerimaku apa adanya. oh hatiku semakin terbuai dengan mbak Dian. pada akhirnya aku ceraikan mbak Windi karena aku semakin tidak tahan dengan kelakuanya yang suka membuang dokumen-dokumen ku. walau aku merasa kehilangan dengan kepergian mbak Windi tapi mbak Dian selalu menghiburku dengan pengertian dan ilmu yang luas yang ia miliki.

semakin hari aku tertarik dengan mbak Dian tapi aku bener-benar tidak enak bila ia aku jadikan pacar karena ia lebih tua dariku dan ia bener-benar perfect! aku takut ada yang bilang “beauty and the bear”. Mbak Dian memang seorang muslimah sejati, dia menjadi inspirator wanita-wanita lain dan menjadi tauladan bagi teman-temanya, ini lah yang membuatku semakin tidak pede mendekati mbak Dian. sadar akan kegelisahanku akhirnya mbak Dian memperkenalkanku dengan adik nya yaitu adek Umi. adek Umi ini benar-benar mirip dengan mbak Dian, beauty, smart, sopan, dan tentunya jujur dan apa adanya. seperti kakanya Umi menerimaku apa adanya dan yang paling aku suka dari dia adalah keramahanya yang memang bener-bener (mendekati) sempurna.

hari demi hari pun kami lalui berdua, pada dasarnya dia memiliki kemampuan yang banyak namun tidak ia perlihatkan. suatu contoh ketika aku pengen dia membantu aku untuk benerin dokumen temenku yang berantakan diamuk virus jahat, diapun bisa walau aku harus membimbingnya. untungnya dia belajar dan belajar terus dan memahaminya tentunya. Umi membuatku semakin enjoy dengannya, dia terbuka dan mau menceritakan masalahnya dengan apa adanya tanpa deiselingi dusta seperti kata dewi yull dalam lagunya “sudah tidak ada dusta Diantara kita”. hubungan yang semakin dekat dengan Umi tidak membuat hubungan ku dengan mbak Dian jauh, justru dengan Umi kami (dengan mbak Dian) semakin akrab dan semakin menjalin tali persaudaraan yang sebelumnya tidak pernah aku dapatkan dari siapapun.

membuat presentasi bersama, berdua nonton filem, membuat website kampus, hingga membuat karya ilmiyah bersama kulalui tanpa sedetik pun kulewatkan dengan Umi, sehingga tak jarang ku dengar “ada Umi pasti ada udienz”, hehehe. sepertinya saya buta, karena apa? karena jika melihat Umi dari hari kehari semakin cantik dan anggun dan mempesona… entah apa kata orang tentang hubunganku dengan Umi, entah seberapa lama mereka akan berkata, yang kutau dengan Umi aku semakin nyaman dan berguna bagi nusa dan bangsa.

hubungan dengan Umi semakin lancar dari hari-kehari, bulan ke bulan hingga tahunan… dan akhirnya dengan segala kekurangan dan kelebihan yang aku miliki aku dengan iklas menjadikan Umi sebagai ISTRI ku hingga tua… selamat tinggal masa laluku (mbak Windi)….. selamat datang ke dalam dunia ku sayangku.. Umi.

*** nama dan tempat adalah fiktif, bisa jadi cerita ini hanyalah sebuah ilustrasi (atau sebuah kebetulan?) dan kemiripan memang di sengaja dan diniatkan untuk tidak menjelek-jelekkan salah satu pihak.

Windi = Windows, saya tidak benci windi, saya tidak memusuhi windi, beneran! saya hanya berharap suatu saat windi lebih terbuka, dan saya bisa menggunakanya dengan cara “halal” siapa tau dia mau saya poligami :D. Dian = Debian Umi = Ubuntu /* silakan cek $ lsb_release -a*/ dan begitulah seterusnya…. atau di url ini http://flickr.com/photos/udienz/2706541051/ http://flickr.com/photos/udienz/2706541015/

inspirasi http://opotumon.blogspot.com/2008/07/kenalan-jatuh-cinta-menikah.html