***terinspirasi oleh cerita yang saya sudah lupa dimana sumbernya

Pada suatu ketika ada seorang bapak yang bijak mempunyai seorang anak perempuan, si anak ini mempunyai cita-cita yang mulia dengan merubah kelakuan hidupnya. Bapaknya menanggapi dengan suka cita, hampir semua perbuatan baik si anak lakukan namun hanya satu hal yang belum bisa ia tinggalkan, yaitu masalah cinta. Perempuan itu belum bisa mengalahkan hatinya yang selalu goyah bila bertemu dengan cowok lain, perempuan itu mempunyai catatan buruk masa kelam tentang cinta dan dia ingin memperbaikinya dengan sepenuh hati namun belum bisa.

Si anak tersebut mengeluh pada bapaknya karena dirinya belum bisa merubah kelakuan yang tidak baik tentang romantisme hidup. Bapaknya hanya menjawab “bersabarlah nak…”. haripun berganti, bulan beriringan muncul. suatu ketika ada lelaki sebelah desa yang menyatakan cinta nya pada anak perempuan, dalam kebimbangan dan ketakutan masa lalu bapaknya berkata “nak, hari ini ada seorang lelaki yang cinta padamu. bapak tau engkau mempunyai kenangan buruk masa lalu, dan sekarang engkau ketakutan akan mengulanginya lagi. untuk itu jikalau engkau melukai hati lelaki itu pakulah tembok mu dengan satu paku. dan jika engkau bisa membuat dia senang cabutlah paku itu”

Anak perempuan itu setuju dengan saran dari bapaknya, maka di terimalah cinta lelaki itu. pada awal pacaran mereka berdua adem ayem loh jinawi…. selang beberapa bulan perempuan itu membuat kesalahan, satu paku ia tancapkan di dinding. esoknya ketika bangun dari tidurnya perempuan itu melihat diding kamarnya di dalam hatinya ia berpikir “ah baru satu paku kok, masih banyak ruang yang tersisa” kemudian pagi itu juga dia mulai berbong untuk meutupi kesalahanya kemarin, begitu juga selanjutnya. kebohongan yang dia buat sungguh banyak hingga paku yang di tancapkan sangatlah banyak.

Karena risih dan kasihan dengan lelaki itu maka si perempuan itu berterus terang dengan lelaki tersebut. Lelaki itu akhirnya memaafkan kesalahan perempuan itu dan perempuan itu berjanji tidak akan melukai lelaki itu lagi. senyuman dan perhatian yang lebih ia tujukan kepada lelaki itu, amat berbunga-bunga hati lelaki itu. maka satu demi satu paku ia cabuti, meski belum semua paku ia cabut tapi hanya sedikit paku yang menancap di dinding paku. Hari demi hari ia lalui dengan rasa cintanya pada lelaki pujaan hatinya, dan semakin sedikit paku yang menancap sekarang.

Di pagi hari ketika bangun dia tersenyum melihat paku yang menancap di dinding kamarnya “sungguh sedikit oey” begitu hatinya berbicara, “aku bangga pada diriku sendiri”

Entah karena terlalu senang dengan kesalahan yang dia buat, perempuan itu mulai lalai lagi. cinta pada lelaki itu mulai luntur dan dia muali beranjak pada lelaki lain. Memang dia pernah mempunyai catatan buruk dulu, namun sekarang sepertinya ia ulangi lagi… ia mencuri-curi waktu untuk bertemu dengan lelaki lain, berbohong pada kekasihnya. hingga pada saat mau tidur ia mulai kebingungan karena paku yang memancap di dinding kamarnya sunggu banyak hingga kelihatan menjijikkan jika di lihat. Tengah malam hari ia mulai tersadar akan ke khilafan itu, akhirnya ia sadar dan berjanji (lagi) tidak akan mengulanginya. diapun mengaku bersalah dan meminta maaf pada kekasihnya, untung saja kekasihnya memaafkanya dan memberinya kesempatan.

Satu demi satu paku ia cabuti, dan hari demi hari ia berjanji ketika bangun tidur akan selalu mengurangi paku yang menancap di dindingnya. walhasil paku di dindingnya kini sudah habis yang tinggal hanyalah bekas tancapan nya saja dan ia pun bangga. Kebanggan bagi dirinya karena ia berbuat baik sekarang, diapun kemudian menceritakan kesuksesanya pada bapaknya.

bapaknya yang bijak itu bertanya pada anaknya, “wahai anakku taukah kamu maksud dari paku dan dinding itu”, si anak menjawab “terangkanlah wahai bapakku”. bapak itu menyambung lagi “bagaimana dengan nbekas pakunya, apakah masih ada?”. “Masih dan mungkin butuh waktu yang lama untuk nmanambal goresan bekas paku itu” jawab anak, bapaknya menghela nafas dalam… “andaikan paku itu adalah kamu dan dinding itu adalah hati lelaki, bagaima menurutmu anakku?” perempuan itu menjawab….. “…….(mungkin karena terbawa esmozi dia tidak bisa menjawab)”

“itulah sebabnya kita di suruh berbuat baik dengan orang lain, suatu kesalahan akan di maafkan tapi tidak akan di lupakan anakku”