WASHINGTON, SELASA - Di antara ledakan bintang atau supernova yang pernah terekam, ledakan bintang yang diamati para astronom baru-baru ini mungkin yang paling terang dan paling besar kekuatannya. Bahkan, peristiwa ini mengejutkan para astronom karena di luar perkiraan dan teori evolusi bintang.

“Ini benar-benar ledakan yang sangat besar, seratus kali lebih besar daripada supernova umumnya,” ujar Nathan Smith dari Universitas California Berkeley, AS. Kekuatan cahaya yang terekam dari teleskop ruang angkasa Chandra X-Ray maupun teleskop permukaan tanah diperkirakan mencapai 5 kali lipat kekuatan cahaya supernova pada umumnya.

Ledakan terjadi pada bintang SN 2006gy di galaksi NGC 1260 yang terletak 240 juta tahun cahaya dari Bumi. Ledakannya pertama kali diketahui pada September tahun 2006. Sinar yang dipancarkan bintang akibat ledakan terus menguat selama 70 hari dan pada puncaknya mencapai 50 miliar kali kekuatan cahaya Matahari atau 10 kali lipat kekuatan cahaya yang dihasilkan pusat galaksinya. Peristiwa ini sangat langka karena supernova pada umumnya hanya berlangsung dalam hitungan hari atau beberapa minggu.

Gambaran baru

Temuan yang dipresentasikan badan antariksa AS (NASA), Senin (7/5), dan akan dimuat dalam Astrophysical Journal edisi terbaru ini mengejutkan para astronom karena terjadi di luar teori dan perkiraan sebelumnya. Bintang raksasa yang berukuran 150 kali massa Matahari secara teori akan membentuk lubang hitam setelah meledak.

Namun, saat energi intinya habis dan lapisan terluarnya runtuh karena ditarik gravitasinya sendiri, SN 2006gy meledak kemudian hancur berkeping-keping dan melemparkan materinya ke sekitarnya. Hal tersebut menunjukkan bahwa proses kehancuran bintang-bintang yang terbentuk di awal terciptanya alam semesta mungkin lebih umum terjadi seperti ini dan bukan berevolusi menjadi lubang hitam.

Selama ini, para astronom telah memprediksi bahwa bintang-bintang generasi tertua yang terbentuk di awal pembentukan alam semesta memang sebesar ini. Namun, mengamati proses kehancuran bintang sebesar ini tergolong jarang. Di dalam galaksi Bima Sakti yang dihuni sekitar 400 miliar bintang, misalnya, para ilmuwan memperkirakan hanya ada sekitar belasan saja.

Eta Carinae

Proses supernova pada SN 2006gy menjadi petunjuk baru para peneliti untuk mengamati kemungkinan terjadinya supernova pada bintang Eta Carinae. Bintang paling terang di galaksi Bima Sakti yang terletak 7000 tahun cahaya dari Bumi itu sudah memperlihatkan tanda-tanda awal kehancurannya.

Eta Carinae yang memancarkan radiasi 5 juta kali energi yang dihasilkan Matahari sudah tidak stabil. Letupan energi di permukaannya menurut para peneliti mirip tanda-tanda yang terjadi pada bintang SN 2006gy sebelum meledak. Namun, kapan terjadinya dan apakah kekuatan cahayanya akan seterang SN 2006gy tidak dapat dipastikan.

“Hal ini bisa terjadi besok atau bahkan 1000 tahun lagi,” kata Mario Livio dari Space Telescope Science Institute di Baltimore, AS. Meski Eta Carinae tergolong dekat dengan Bumi, kalaupun meledak tidak akan membahayakan manusia. “Paling-paling membuat kita bangun sejenak,” tandas Livio.

Sumber: Space.com Penulis: Wah